Rss Feed Facebook Twitter Google Plus

post:


Tampilkan postingan dengan label karir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karir. Tampilkan semua postingan

Rekan yang Malas

Jangan melaporkan teman - Meskipun menjadi masalah, namun setidaknya jangan melaporkan teman Anda yang malas kepada atasan. Jangan pernah menjadikan teman malas Anda sebagai bahan keluhan kerja Anda karena hal ini akan membuat diri Anda nampak tidak profesional. Jika kemalasannya tidak sampai merugikan teman yang lain, maka biarkan saja dan cukup Anda yang mengetahui. Namun jika kemalasannya melanggar aturan dan melanggar norma, laporkan hal tersebut. Tapi ingat, Anda harus memberikan bukti yang kuat.

Jangan Ubah Sifat Anda

jangan berubahMeskipun teman Anda malas, namun jangan jadikan hal ini alasan Anda berubah menjadi orang yang pemarah atau pun terganggu. Jika Anda merupakan tipe orang yang mudah terganggu, maka ada baiknya Anda menjaga jarak dengannya.

Jangan Terbawa Malas Karenanya

jangan malasJika Anda orang yang mudah terpengaruh, maka lebih baik jangan berteman dengan orang yang malas. Jika Anda tahu bahwa hal tersebut tidak benar, maka jangan pernah mengikutinya. Bahkan jika perlu, ajak teman malas itu untuk berubah.


Gunakan Kesempatan

gunakan kesempatanJika Anda berpikir lebih panjang. Manfaatkan situasi teman Anda yang pemalas agar Anda mudah untuk naik jabatan. Saat memiliki teman yang malas, berusahalah bekerja lebih rajin dari biasanya. Hal ini akan memudahkan Anda untuk naik jabatan dan mendapatkan kesan baik dari atasan.
Read more

Cara Menegur si Malas

Seni Menegur Orang - Sikap malas memang akan merugikan banyak pihak. Tapi hampir di semua perusahaan, Anda akan menemukan rekan kerja yang pemalas. Jika ini terjadi pada teman kerja Anda, sebagai kolega yang baik Anda bisa menghadapinya dengan enam cara di bawah ini, seperti dikutip dari 29Secrets.

1. Menegur

Bukannya untuk bersikap sok menasihati. Tapi sebagai rekan kerja yang baik, Anda juga wajib menegur kolega yang pemalas demi kebaikannya sendiri dan perusahaan agar tidak memperburuk produktivitas. Bicarakanlah baik-baik supaya ia tidak merasa tersinggung.

2. Jangan Bantu Pekerjaannya

Jika kolega Anda malas mengerjakan pekerjaannya, sebaiknya Anda jangan membantu menyelesaikan tugasnya. Membantunya boleh asalkan jangan terlalu sering. Sebab, hal tersebut hanya akan membuat dia makin malas.

3. Jangan Sering Mengobrol

Rekan kerja pemalas akan merasa senang bila diajak ngobrol atau bergosip. Sebab ia jadi ada aktivitas lainnya ketimbang harus menyelesaikan pekerjaannya. Oleh karena itu, sebaiknya Anda tak perlu sering-sering mengajaknya ngobrol. Jika Anda lebih cuek, dia tidak akan punya teman ngobrol dan tidak ada aktivitas lain selain mengerjakan pekerjaannya.


4. Jangan Ikut-ikut Jadi Malas

Sebagai rekan kerja yang baik, jangan sampai Anda ikut-ikutan jadi pemalas. Anda harus bisa memberinya contoh sebagai karyawan yang rajin dan disiplin. Dengan begitu, ia juga akan termotivasi untuk meniru apa yang Anda lakukan.

5. Beri Dia Motivasi
Tidak menutup kemungkinan rekan kerja Anda bersikap malas karena tak ada dorongan motivasi dari bos di kantor. Sebagai teman yang baik, Anda bisa memberinya motivasi, serta dukungan agar kolega Anda tidak menjadi pemalas lagi. Dengan mengatakan bahwa malas hanya akan merugikan dirinya sendiri, itu sudah bisa membantu.

6. Lapor Pada Atasan

Apabila sikap malas kolega Anda sudah tidak bisa ditolerir lagi, Anda berhak melaporkan pada atasan di kantor. Asalkan, Anda bisa menyertakan bukti bahwa rekan kerja Anda pemalas, agar tidak dicap mengada-ada oleh si bos.
Read more

Menghadapi si Malas Kerja

Memiliki rekan kerja yang super malas seringkali membuat banyak pegawai jengkel hingga terlibat konflik di kantor. Daripada bertengkar dengan rekan kerja yang malas, terdapat banyak cara lain yang lebih positif guna mengatasinya. Tak hanya sering melimpahkan tugas dan tanggung jawab ke orang lain, rekan kerja yang malas akan menggunakan waktu produktif untuk melakukan hal yang sekali tidak berhubungan dengan pekerjaan. Alih-alih melaksanakan tugas di kantor, rekan kerja semacam ini justru menghilang kala dibutuhkan! Padahal selama ini para pegawai selalu dituntut untuk bekerja keras demi memperoleh pencapaian karir yang lebih besar. Agar Anda tidak terganggu dengan rekan kerja yang malas dan tetap bisa bekerja keras, berikut 5 trik menghadapinya seperti dikutip dari laman Magforwomen.


Abaikan
Jangan pernah mengeluh atau melaporkan para pegawai yang malas pada atasan. Biarkan saja atasan Sobat mengetahuinya sendiri, jangan sampai kamu tampak tidak profesional karena melakukan hal tersebut. Namun jika aksi malas teman kerja di kantor sudah mempengaruhi produktivitas tim secara keseluruhan, laporkan hal tersebut sebagai fakta. Ingat, jangan pernah menunjukkannya sebagai keluhan.




Stay Cool
Pahami bahwa rekan kerja yang malas sepatutnya tidak membuat kamu merasa marah atau terganggu. Pastikan tidak ada perubahan pola kerja pada dirimu, karena Sobat akan merugi kalau etos kerjamu jadi terganggu hanya karena ada penganggu semacam ini. Jaga jarak saja agar tidak terganggu dengan sikap malasnya secara langsung.



Hindari untuk akrab dengannya
Kalau sudah begini, Sobat jangan sampai membangun hubungan keakraban dengannya. Tipe karyawan seperti ini akan memanfaatkan hubungan pertemanan dengan rekan kantor yang rajin untuk membantunya mengerjakan tugasnya, yang penting kamu kenal dengannya dan begitu pula sebaliknya, Thats it!


Gunakan sebagai kesempatan
Kadang-kadang kamu dapat mengubah situasi yang buruk menjadi menguntungkan bagi diri sendiri. Saat memiliki rekan kerja yang pemalas, manfaatkan kondisi itu untuk menjadi pimpinan. Tunjukkan Sobat bekerja lebih rajin dari yang lain. Hal ini akan membuatmu lebih mudah naik jabatan.

Read more

Mengatasi Stress di Kantor

Stress adalah keadaan jiwa yang paling populer di abad ini. Coba anda ingat-ingat kembali berapa banyak orang yang anda jumpai mengatakan bahwa mereka sedang mengalami stress atau mungkin anda sendiri sedang mengalaminya?




Stress bukan suatu penyakit, tetapi jika anda tidak dapat mengatasinya dalam waktu tertentu, anda akan terkena banyak masalah kesehatan.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa:
– Lebih dari 40 juta orang di Eropa atau setidaknya 1 dari 3 orang pekerja mengatakan bahwa mereka mengalami stress di tempat kerja.
– Stress di tempat kerja adalah masalah kedua yang sering terjadi disamping masalah sakit punggung.
– Dari hasil survei juga dikatakan bahwa lebih dari seperempat pekerja absen selama 2 minggu (akumulasi) dalam setahun karena masalah kesehatan yang diakibatkan oleh stress.
Mohon maaf karena saya belum mendapatkan hasil survei di Indonesia, tapi kurang lebih saya perkirakan sama.

Sebelumnya saya akan sampaikan beberapa hal utama yang dapat menyebabkan stress di tempat kerja:
– Kondisi kerja yang selalu berada di bawah tekanan
– Ketidakjelasan tugas yang diberikan
– Permintaan barang yang sangat tinggi
– Kurangnya perencanaan kerja
– Adanya ancaman di kalangan karyawan
– Teriakan dan makian para konsumen
– Teman kerja yang selalu mengganggu
– Ketidaknyamanan fisik, seperti suara mesin yang ribut, ventilasi yang kurang dsb.
– dan yang paling buruk, tidak adanya perbaikan untuk mengatasi masalah-masalah diatas.

Hal-hal ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan fisik dan mental seperti: depresi, gelisah, gugup, tidak dapat fokus untuk waktu yang lama dan keletihan yang berkepanjangan.

Jika ada hal-hal diatas yang anda rasakan …. hmmm, saya rasa anda perlu segera merubah aktivitas anda sehari-hari baik di tempat kerja maupun di hidup anda secara keseluruhan.

Berikut adalah 9 tips mengatasi stress di tempat kerja:
1. Rencanakan dengan baik aktivitas anda : apa, mengapa, bagaimana, kapan dan siapa yang bertanggung jawab terhadap tugas-tugas. Penting sekali untuk membuat perencanaan bukan hanya jangka panjang tapi juga jangka pendek (rencana bulanan, rencana harian).

2. Pastinya anda di masa lalu pernah mengalami masalah-masalah di tempat kerja. Coba ingat-ingat kembali adakah cara-cara yang dapat anda gunakan untuk mengatasi masalah yang anda hadapi saat ini.

3. Ikutlah membangun iklim kerja yang menyenangkan, yaitu dengan bersikap terbuka dan berkomunikasi dengan sesama rekan kerja.

4. Pastikan anda mengerti terhadap tugas dan tanggung jawab anda, serta jangan ragu untuk bertanya.

5. Lakukan beberapa kali break untuk beberapa menit selama anda bekerja. Santai dan JANGAN MELAKUKAN APAPUN. Ambil nafas dalam-dalam.

6. Miliki sikap toleransi kepada sesama rekan kerja. Ingatlah bahwa masing-masing orang adalah pribadi yang unik, sebagai contoh : beberapa orang justru berprestasi lebih baik di bawah tekanan sementara sebagian yang lain membutuhkan waktu lebih banyak untuk menyelesaikan pekerjaannya.

7. Delegasikan sebagian tanggung jawab anda kepada anak buah anda.

8. Pertahankan semangat tim anda, misalnya dengan melakukan perayaan-perayaan kecil, berolahraga atau berekreasi bersama.

9. Sediakan lingkungan kerja yang baik. Minimalkan gangguan-gangguan seperti suara, ventilasi, cahaya dan suhu.

Disamping stress di tempat kerja, di kehidupan secara umum kita pun dapat mengalami stress dengan beberapa alasan.
Read more

Cara Menyelesaikan Konflik

Konflik dan ketidakcocokan di kantor sangat mungkin terjadi, apalagi dengan beban kerja yang kadang membuat Anda mudah stres.

Untuk bisa menyelesaikannya, Anda perlu strategi khusus agar suasana yang ada tidak makin keruh.

1. Tentukan apakah Anda ingin mengkonfrontasi orang yang memiliki konflik dengan Anda. Dalam hal pekerjaan, lebih baik utarakan langsung hal-hal yang mengganggu Anda, ketimbang menjelek-jelekkan di belakang.

2. Bicara dengan tenang, sopan, dan rasional. Cobalah fokus kepada situasi dan keinginan untuk menyelesaikan konflik. Jangan sesekali terkesan menyerang secara personal, karena hanya akan membuat konflik makin ‘panas’.

3. Hati-hati dalam memperlihatkan kesan bermusuhan, baik dalam nada suara maupun gestur tubuh. Dengan sikap tenang dan bahasa tubuh yang sopan, orang yang memiliki konflik dengan Anda juga akan lebih menghargai apa yang akan Anda katakan.

4. Dengarkan dengan baik apa yang dibicarakan dengan pihak yang berkonflik dengan Anda. Jangan hanya ingin didengarkan, karena orang lain juga berhak untuk mengutarakan pendapatnya.

5. Komunikasikan secara jelas apa yang Anda inginkan, lalu tawarkan juga saran dan rekomendasi untuk penyelesaian konflik. Dalam hal ini, Anda juga harus bisa fleksibel dan mau melakukan kompromi.




6. Bicarakan dengan atasan jika konflik tidak dapat diselesaikan sendiri. Minta atasan untuk menjadi mediator bagi Anda berdua, tapi hindari kesan terlalu banyak mengeluh.

7. Saat merasa tidak cocok dengan pribadi tertentu, coba dulu pahami apa yang membuat dia berperilaku demikian. Mungkin ketika Anda sudah tahu apa penyebabnya, Anda akan mengetahui bagaimana cara menghadapinya.
Read more

Solusi Masalah di Kantor

Sebagai seorang karyawan, umumnya Anda menghabiskan sekitar 8 jam untuk bekerja. Suka atau tidak suka, sejumlah masalah akan muncul saat Anda bekerja.

Tentunya,  setiap masalah tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Mengapa? Ketika Anda membiarkannya, akan timbul masalah-masalah baru sehingga Anda terjerembab pada kubangan masalah.

Jangan khawatir jika Anda tidak tahu akan solusi masalah yang sedang Anda hadapi. Berikut 7 contoh masalah di tempat kerja lengkap dengan solusi cerdasnya.

1. Kewalahan Menangani Pekerjaan

Pada suatu titik beban pekerjaan Anda terasa meningkat secara drastis dari sebelumnya. Kemudian Anda mulai kewalahan untuk membagi-bagi waktu untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan tersebut. Bahkan, sekadar ke toilet pun rasanya Anda tidak memiliki waktu dan membuat Anda stres.

Solusi:

Jika hal ini terjadi, sebaiknya Anda berbicara dengan manajer Anda mengenai beban pekerjaan yang dirasa terlalu berat. Pilih waktu yang tepat untuk berbicara dengan manajer Anda, usahakan tidak di jam-jam sibuk dan dengan janji sebelumnya.

Jelaskan baik-baik bahwa Anda merasa kewalahan dengan limpahan pekerjaan yang tidak terbayangkan tersebut dan jelaskan mengapa.

Misalnya Anda menangani pekerjaan yang tahun ini telah berkembang sehingga ada dua kali lipat pekerjaan yang harus ditangani dibandingkan dengan tahun sebelumnya, atau Anda masih memegang tanggung jawab orang-orang yang resign dari kantor namun tidak juga memiliki pengganti.

Penjelasan kepada manajer Anda ini penting, karena mereka terkadang luput dengan adanya lebih banyak tanggung jawab. Namun, jangan lupa pula untuk memberikan opsi solusi, seperti misalnya Anda dapat melakukan pekerjaan A dan B, namun tidak jika ditambah dengan C.

Namun jika pekerjaan C ternyata lebih krusial, Anda dapat mengajukan seseorang lainnya untuk mengerjakan pekerjaan tersebut dibawah pengawasan Anda.

Hal ini berguna jika manajer Anda tidak cukup membantu dalam menentukan prioritas sehingga Anda dapat mengajukan hal yang menurut Anda memang patut diprioritaskan.

2. Bos Anda Resign atau Dipecat

Suatu ketika Anda dikejutkan dengan keluarnya bos Anda dari perusahaan. Kemudian dalam sesaat Anda kehilangan bos yang memastikan setiap project yang Anda kerjakan sukses.

Anda khawatir pengganti bos Anda tidak memiliki visi yang sama atau sesederhana tidak mudah diajak bekerja sama seperti bos Anda yang keluar perusahaan.

Solusi:

Tetaplah tenang. Bos Anda yang baru bisa jadi tidak seburuk itu dan bahkan mungkin sama baiknya dengan bos yang lama. Atau, mungkin di awal-awal waktu Anda butuh penyesuaian untuk bekerja dengan bos yang baru, namun mungkin hanya diperlukan waktu untuk beradaptasi sampai Anda benar-benar mengenalnya.

Hal terbaik yang dapat Anda lakukan adalah menyingsingkan lengan dan mulai mencoba menjaga agar departemen bagian Anda bekerja tetap berjalan walaupun dengan pelan, sehingga bermanfaat pula untuk pembuktian diri Anda memiliki keahlian organisasi yang baik serta nantinya dapat meningkatkan reputasi Anda.

Cobalah bertindak sebagai sumber daya yang sangat membantu bagi manajer baru, dan tahan diri Anda untuk menghakimi gayanya bekerja serta kompetensinya sampai manajer baru tersebut sudah mengerti posisinya. Tentunya Anda juga tidak ingin dihakimi berdasarkan pekerjaan Anda di minggu-minggu pertama

3. Pekerjaan di Luar Ekspektasi

Masalah di tempat kerja yang bisa menimpa siapa pun adalah pekerjaan yang tidak sesuai dengan ekspektasi Anda saat melamarnya. Misalkan pada tahap rekrutmen Anda ingin ditempatkan di bagian penjualan, namun berakhir dengan mengatur spreadsheets setiap harinya.

Solusi:

Bicarakan dengan bos Anda. Katakan sewaktu Anda direkrut untuk perusahaan Anda, pembicaraan mengenai pekerjaan yang dilakukan 90% berbeda dengan kenyataan di lapangan. Dapatkah dibicarakan ulang mengenai perubahan ini dan apakah ada cara untuk Anda mendapatkan pekerjaan sepeti yang awalnya dibicarakan?

Pastikan Anda mengatakannya dengan nada tenang dan kolaboratif, bukan frustasi dan marah. Hal ini akan membuat reputasi Anda lebih sebagai problem-solver, bukan complainer.

Mungkin Anda akan mendengar pekerjaannya memang sudah diubah dan tidak ada hal lain yang bisa dilakukan, namun bisa jadi pula sebaliknya, manajer Anda memikirkan ulang mengenai pekerjaan yang seharusnya Anda lakukan.

Apa pun yang terjadi, setelah percakapan berakhir Anda akan lebih memiliki gambaran yang jelas mengenai ekspektasi manajer di masa mendatang dan dapat membuat keputusan sebaik mungkin.

4. Konflik dengan Rekan Kerja

Contoh masalah konflik karyawan

Konflik dengan rekan kerja selalu ada di setiap perusahaan karena setiap karyawan berbeda karakter. Sebagai contoh, Anda sudah mencoba sebaik mungkin untuk berlaku baik, namun hanya dengan satu rekan kerja ini, setiap perdebatan akan berakhir rumit dan menghambat sebuah proyek terlaksana tepat waktu.

Mengingat Anda bertemu dengan rekan kerja ini sepertiga hari setiap hari kerja, sebetulnya Anda juga menginginkan relasi yang harmonis.

Solusi:

Hilangkan ego Anda. Anda tidak harus menyukai rekan kerja tersebut, tidak harus memenangkan setiap perdebatan, namun Anda harus selalu dapat bekerja sama denngannya. Ingatlah bahwa kalian ada di bawah satu perusahaan yang sama.

Tetaplah bersikap baik walau Anda merasa itu tidak akan mencairkan suasana. Tanyakan pada diri Anda, apakah ada sesuatu mengenai rekan kerja tersebut yang anda kagumi dan dapat Anda puji? Adakah suatu masalah yang barangkali dapat dibantu dengan nasihat rekan kerja tersebut?

Namun jika memang tidak ada, mungkin memang perilaku rekan kerja tersebut menyebalkan, dan tidak ada yang dapat mengubahnya kecuali dirinya sendiri. Pikirkan saja cara agar Anda tidak terganggu dengan rekan kerja menyebalkan tersebut dan lebih fokus pada pengembangan diri sendiri.

5. Bos Tidak Melihat Hal yang Telah Anda Kerjakan

Anda sudah bekerja mati-matian untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau memenangkan hati para klien pula. Namun, tampaknya bos Anda tidak melihat bahwa peningkatan yang baik tersebut adalah berkat usaha keras Anda.

Solusi:

Hal yang sangat lumrah jika bos Anda ingin mengetahui pencapaian Anda, namun, realitanya sangat sedikit yang dapat mengetahui dengan sendirinya. Anda tidak dapat duduk diam dan mengharapkan bos Anda memuji keberhasilan Anda.

Cobalah sedikit menyinggung hal-hal yang telah Anda kerjakan yang menurut Anda adalah sebuah pencapaian besar. Ceritakan pengalaman klien yang puas dengan pekerjaan Anda di minggu lalu, sehingga bos Anda lebih menyadari bahwa ia memiliki karyawan yang cerdas dengan berbagai pencapaian.

Tentunya lakukan dengan penuh kesederhanaan, dan tetap ingat Anda tidak memerlukan pujian untuk setiap hal kecil yang Anda lakukan.

6. Membuat Kesalahan Fatal

Setiap manusia dapat membuat kesalahan, tak terkecuali di tempat kerja. Anda tidak sengaja membuat kesalahan yang sangat fatal dan membahayakan citra perusahaan.

Solusi:

Cepat-cepat informasikan kesalahan Anda kepada bos Anda. Jangan sampai bos Anda mendengar dari pihak lain karena nantinya Anda akan dianggap sebagai orang yang tidak bertanggungjawab.

Jelaskan Anda merasa sangat bersalah dengan kesalahan yang Anda buat, katakan Anda mengerti impact dari perbuatan Anda terhadap citra perusahaan. Kemudian jelaskan bagaimana Anda dapat meminimalkan efeknya, serta memastikan agar kesalahan tersebut tidak terulang.

7. Rekan Kerja Mengakui Hasil Pekerjaan Anda Sebagai Idenya

Masalah ini memang sangat menyebalkan. Sebagai contoh, presentasi yang telah Anda buat semalam suntuk diambil alih oleh rekan kerja Anda.

Anda tidak mengerti apakah ini sebuah kesengajaan atau tidak, namun ia jelas-jelas tidak menyebut Anda sebagai pencetus ide.

Solusi:

Bicara! Jadilah lebih proaktif saat mengklaim hasil pekerjaan Anda sebelum rekan kerja Anda berhasil mencurinya, yang kemudian dapat membuat bos Anda bertanya-tanya apakah Anda bekerja atau tidak.

Anda bisa juga menambahkan setelah rekan kerja tersebut mengambil ide Anda, bahwa Andalah yang pertama kali menuliskan analisis dan rekomendasi, dan tanya kembali jika ada peserta rapat yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut.

Itulah 7 masalah di tempat kerja yang biasanya terjadi beserta solusinya. Jadi, sudah tidak bingung lagi bukan ketika salah satunya terjadi kepada Anda?
Read more

Menghadapi Musuh di Kantor

Ganti Hinaan dengan Kebohongan

Kebohongan tidak selamanya buruk dan negatif. Ada istilah white lie yang merupakan kebohongan demi kebaikan. Kadang, kita harus berbohong agar segala sesuatunya berjalan baik. Bayangkan betapa kacaunya kalau semua orang selalu jujur (“Kamu gendutan? Kok selera fashion-mu jelek sih? Jujur ya, omonganmu itu basi semua.”), bisa-bisa akan ada perang dunia sepanjang waktu.
Kesopanan adalah kebohongan yang terpoles dengan sangat baik. Kesopanan akan membuat hubungan antar manusia berjalan dengan baik, khususnya bagimu dan musuhmu. Eric Hoffer, seorang ahli filsafat, mengatakan bahwa mencari-cari kesalahan orang yang kita benci akan makin mengobarkan kebencian. Sebaliknya, memperlakukan musuh di kantor dengan murah hati akan memadamkan kebencian kita.
Daripada benci, lebih baik  memuji musuhmu—bahkan jika harus sedikit berbohong tentang pujian tersebut. Jika kamu memuji seseorang, mereka akan melihat pujian tersebut sebagai itikad baikmu. Mungkin, ia akan mulai bersikap baik dan balas memujimu. Hal ini akan mampu meredakan ketegangan di antara kalian dan mengubah hubungan kalian menjadi lebih baik serta menguntungkan.

Minta Saran dan Nasihat Padanya

Oke, mungkin ini kedengarannya gila. Untuk apa minta saran pada orang yang terus-menerus mengkritik, memperlakukanmu seperti bawahannya (padahal kalian selevel), dan sering menyalahkanmu? Bukankah lebih baik orang-orang macam ini langsung didorong ke dalam kawah gunung berapi saja?
Coba, mundur dan tenang sedikit. Selalu ada pilihan-pilihan di sekitarmu. Kamu bisa saja melabraknya, namun tindakan ini mungkin tidak terlalu efektif karena malah akan menambah ketegangan di antara kalian. Daripada melawan api dengan api, datangi dia satu lawan satu… dan minta saran kepadanya mengenai pekerjaan. Misalnya, ia bagus dalam memimpin tim, coba tanyakan kepadanya bagaimana caranya memonitor performa tim atau tips kepemimpinan yang jitu.
Mungkin awalnya ia akan kaget melihatmu berani mendatanginya dan tidak menyangka kamu akan berjiwa besar meminta nasihat profesional darinya. Langkah ini membuktikan bahwa kamu menganggap tindakan menyebalkannya sebagai motivasi, bukannya patah semangat diperlakukan seperti itu. Untuk “membalasmu”, dia akan terpaksa memberi saran dengan sportif (kecuali dia memang tidak punya perasaan dan tidak peduli kredibilitas). Dengarkan sarannya dan benar-benar lakukan yang menurutmu baik. Setelah itu, datangi dia lagi dan berterima kasih karena sarannya ampuh (kalaupun tidak seampuh itu, berbohonglah sedikit). Lakukan ini beberapa kali. Mungkin bahkan ia meminta saran balik padamu dan hubungan kalian jadi lebih baik.

Merenung

Ketimbang memikirkan cara-cara untuk membuat musuhmu yang ada di kantor menderita, bagaimana jika kamu merenung sejenak tentang si makhluk-menyebalkan-dari-kerak-neraka itu. Philo, seorang filsuf, menyarakan untuk berbaik hati pada musuhmu, karena semua orang memiliki perjuangan keras dalam hidupnya. Mungkin musuhmu pernah mengalami hal-hal sulit yang membentuk kepribadian kerasnya. Lalu, coba lihat lagi bagaimana orang-orang lain berinteraksi dengannya. Apa hanya kamu yang merasa tidak suka padanya? Apakah dia hanya menyebalkan terhadapmu?
Benjamin Franklin pernah berkata bahwa musuh harusnya disayangi, karena mereka terus-menerus mengingatkan keburukanmu. Pujian dari teman-teman bisa membutakan, maka musuh ada untuk menunjukkan kekuranganmu. Jika dilihat dengan positif, anggap saja kritikan tersebut sebagai sarana memperbaiki diri. Anggap musuh sebagai reminder gratis yang terus-menerus mengingatkanmu untuk meningkatkan performa di kantor.
Langkah terakhir, renungkan apa tujuanmu dalam berkarier. Apakah kamu ingin bebas konflik, dan senantiasa damai ATAU berjuang mencapai segala target yang ditetapkan? Apa ada tujuan yang ingin kamu capai, untuk diri sendiri dan kariermu? Jika kamu ingin mencapai sesuatu, masa bodohlah dengan semua ketegangan dan drama di tempat kerja. Konsentrasi untuk dirimu sendiri. Tetapi, sebaliknya, jika tujuanmu adalah bekerja dengan penuh cinta damai, mungkin mencari kantor baru adalah keputusan yang bijaksana—JIKA semua cara yang ditempuh gagal dan suasana tidak tertahankan lagi. The choice is all yours!
Tidak ada gading yang tak retak. Kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Percayalah di manapun kamu bekerja, pasti selalu saja ada masalah. Pilihannya adalah berjuang dan terus beradaptasi dengan suasana kerja tersebut. Jika kamu merasa terus-menerus bermasalah, mungkin kamu harus berpikir ulang lagi. Apakah ternyata selama ini masalahnya adalah dirimu sendiri? Ingat, masalah apapun dapat diselesaikan dengan usaha. Jadi, jangan pernah berhenti berusaha, demi karier yang gemilang!
Read more